Bank Dunia (World Bank) dan Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global untuk 2025. World Bank memperkirakan pertumbuhan hanya akan mencapai 2,3%, sementara OECD menempatkannya di angka 2,9%, turun dari proyeksi awal 3,3%.
Kondisi ini menjadikan tahun 2025 sebagai salah satu tahun paling lambat pertumbuhannya di luar periode resesi sejak krisis finansial 2008. Sekitar 70% negara diperkirakan mengalami pelambatan, terutama negara-negara berkembang yang terdampak fluktuasi harga komoditas dan tekanan utang luar negeri.
Konflik antara Iran dan Israel di Timur Tengah telah menimbulkan ketegangan global. Harga minyak dunia melonjak tajam sebesar 5–7% akibat gangguan pasokan, memicu lonjakan inflasi di berbagai negara importir energi.
Selain itu, perseteruan dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok masih berlangsung, dengan kenaikan tarif dan pembatasan ekspor yang mengganggu rantai pasokan global. Negara-negara di Asia dan Amerika Latin ikut terdampak karena terganggunya perdagangan lintas kawasan.
Pasar saham Amerika mengalami tekanan besar. Indeks S&P 500 turun 1,1%, Nasdaq kehilangan 1,3%, dan Dow Jones terkoreksi hingga 1,8% pada penutupan 13 Juni lalu. Para investor cemas terhadap ancaman stagflasi dan memilih mencari alternatif yang lebih stabil.
Menariknya, tren “Sell America” kini menguat. Investor global mulai melirik Eropa dan Jepang sebagai destinasi investasi baru. Bursa saham Eropa seperti DAX Jerman dan STOXX 600 mencatat kenaikan, sementara pasar Jepang mendapat angin segar dari reformasi struktural dan inflasi yang bergerak naik ke level sehat.
Bank sentral utama dunia memilih pendekatan konservatif. Federal Reserve AS masih mempertahankan suku bunga tinggi, meski analis memprediksi adanya pemangkasan hingga 50 basis poin di semester kedua tahun ini.
Sementara itu, Bank of England telah memangkas suku bunga sebesar 0,25% di bulan Mei dan diperkirakan akan kembali melonggarkan kebijakan moneter pada Agustus, guna meredam tekanan biaya hidup yang terus menanjak.
Laporan terbaru Forum Ekonomi Dunia (WEF) menunjukkan kesenjangan gender secara global baru tertutup sekitar 68,8%. Jika tren saat ini berlanjut, dibutuhkan waktu 123 tahun untuk mencapai kesetaraan penuh antara laki-laki dan perempuan di dunia kerja. Namun, potensi ekonominya sangat besar. Laporan PBB menyebut bahwa pencapaian kesetaraan gender dapat menambahkan hingga US$ 7 triliun ke dalam ekonomi global.
Para pelaku pasar dan pemerintah di seluruh dunia dituntut untuk responsif, bijak dalam menetapkan kebijakan, dan terbuka terhadap transformasi jangka panjang demi menjaga stabilitas dan pertumbuhan ekonomi global.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar